Monday, November 24, 2014

Perbaikan Sistem, Pemesanan Tiket Kereta Api Ditutup Malam Ini


Sore ini, 24 November 2014, melalui akun Twitter @KAI121, diumumkan bahwa pemesanan tiket kereta api untuk sementara tidak dapat dilakukan. Pemberitahuan tersebut dikuatkan dengan pengumuman yang terpampang di situs resmi pemesanan tiket KAI (http://tiket.kereta-api.co.id/), yang terdapat dalam screenshot berikut ini:

Pengumuman perbaikan RTS, mulai Senin (24/11) jam 22:00 sampai Selasa (25/11) jam 03:00


Dalam pengumuman tersebut, disebutkan bahwa alasan penutupan pemesanan tiket untuk sementara tersebut bertujuan untuk peningkatan layanan pemesanan tiket PT KAI. Penutupan tersebut juga berlaku untuk situs-situs dan aplikasi-aplikasi smartphone channel eksternal yang menjadi mitra resmi pemesananan tiket PT KAI. Perbaikan/penyempurnaan sistem tersebut diduga kuat ada kaitannya dengan musim liburan Natal dan Tahun Baru yang akan jatuh tepat satu bulan lagi. PT KAI diperkirakan sedang mempersiapkan sistem pemesanan tiket (Rail Ticketing System) untuk menghadapi lonjakan calon penumpang yang akan bepergian menggunakan jasa angkutan kereta api.

Bagi para penumpang yang telah melakukan pemesanan sebelum pukul 17:00 sore tadi, diharapkan telah membayar pemesanannya sebelum perbaikan sistem, yang rencananya akan dimulai pada pukul 22:00 malam ini. Namun demikian, penutupan pemesanan tiket ini tidak mempengaruhi para penumpang yang berencana bepergian pada malam ini dan baru akan membeli tiket di stasiun pemberangkatan (go show).

Masih berhubungan dengan penjualan tiket kereta api, dalam artikel berjudul Tiket Kereta Api untuk Pekan Natal Sudah Ludes Terjual, Kompas melaporkan bahwa tiket kereta api untuk keberangkatan dari Semarang menuju sejumlah tujuan pada musim liburan Natal/Tahun Baru 2014/2015 rata-rata sudah mencapai angka 70-75 persen dari kapasitas maksimum, bahkan untuk perjalanan Kereta Api Tawang Jaya relasi Semarang Poncol-Pasar Senen, tiket sudah habis untuk keberangkatan tanggal 24 sampai 31 Desember 2014.

Sejauh ini, belum ada laporan mengenai ketersediaan tiket kereta api pada jurusan-jurusan lainnya, namun bagi para calon penumpang yang saat ini belum memesan tiket dihimbau untuk tidak khawatir, karena pada besok hari, 25 November 2014, pemesanan tiket ditargetkan sudah dibuka kembali, sehingga penumpang dapat melakukan pemesanan kembali.

Harapan seluruh calon penumpang kereta api, dengan diperbaikinya sistem pemesanan tiket, diharapkan tidak akan terjadi lagi masalah-masalah pemesanan tiket seperti yang pernah terjadi pada saat pemesanan tiket menjelang arus mudik Lebaran tahun 2014. Pada saat itu, banyak penumpang yang sangat kesulitan untuk mendapatkan tiket kereta api. Sehingga saat ini, diharapkan PT KAI benar-benar berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang terbilang fatal tersebut dan, melalui sistem pemesanan tiket online yang telah diperbaiki, benar-benar memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi para calon penumpang yang akan berlibur menggunakan jasa angkutan kereta api.

Saturday, November 22, 2014

Pengalaman Ketinggalan Kereta



Setelah sekian lama blog nggak keurus karena lagi sibuk di kampus, daripada bener-bener terlantar, gue mau sedikit share pengalaman ketinggalan kereta. Kepikiran buat sharing inipun gara-gara kemarin ngubek-ngubek forum terus nemu thread tentang pengalaman ketinggalan kereta, jadi ya udah sekalian dishare disini juga...

Kalo pengalaman ketinggalan kereta sih, untungnya baru sekali, dan itupun belum sempet dibeli tiketnya, jadi ya nggak terlalu ngerasa rugi kecuali rugi karena batal naik kereta. Kejadiannya itu di tanggal 05 Maret 2014, waktu itu di grup railfans gue dapet info kalo rangkaian JR 205 bakal memulai hari pertamanya melayani para komuter Jabodetabek, yaitu di rute Bogor-Jakarta Kota. Setelah berhasil ngedapetin jadwalnya, gue langsung ke Stasiun Bandung. Awalnya pengen naik KA 21, yang waktu itu jadwalnya masih jam 07:15 dari Bandung, tapi karena baru nyampe jam 07:50, terpaksa gue naik KA 7135, yang waktu itu berangkat jam 08:15...

Tiket KA 7135 BD-GMR, 05.03.2014

Otomatis, karena berangkatnya delay 1 jam, ya mau nggak mau gue cuma bisa nyegat si JR 205 pas perjalanannya balik dari Beos ke Bogor, yang menurut jadwalnya, bakal berhenti di Manggarai antara jam 11:20-11:25 (kalo nggak salah ya, soalnya catatan jadwalnya ilang). Ya udahlah, yang penting masih bisa ngedapetin momentnya. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta berlangsung dengan normal, waktu tempuhnya ternyata bener-bener nyaris 3,5 jam sesuai jadwalnya (rekor perjalanan GoPar terlama). Sepanjang perjalanan nggak banyak foto-foto, salah satunya foto ini, di petak Sukatani-Ciganea...
 
Pemandangan dari KA 7135 di petak Sukatani-Ciganea


Begitu kereta tertahan di sinyal masuk Stasiun Jatinegara, kondekturnya masuk ke dalam Eksekutif 4, nanyain kalo ada yang mau turun di Jatinegara. Ternyata, KA 7135 nggak berhenti, jadilah gue dan satu orang penumpang lainnya “terpaksa” turun waktu kereta masih tertahan sinyal. Tapi ya nggak apa-apa deh, demi JR 205 ini. Masuk stasiun, langsung naik KRL pertama ke arah Manggarai. Di stasiun itu, pas ngeliat ke arah jalur 1, ternyata ada rangkaian JR 205 lainnya yang lagi nongkrong, entah baru mau test run atau baru beres test run. Langsung aja gue fotoin rangkaian yang ada di jalur 1, selagi pintu kereta gue masih dibuka...

JR 205-99F @ Stasiun Manggarai (1)

JR 205-99F @ Stasiun Manggarai (2)

Karena belum ada tanda-tanda kedatangan JR 205 dari arah Beos (tanda-tandanya diumumin kalo rangkaian yang berikutnya dateng itu adalah ‘rangkaian 10 kereta’), jadinya gue masih melanjutkan perjalanan sampai Cikini. Waktu menunjukkan pukul 11:30 begitu gue nyampe di Cikini, tapi ditungguin sampe 11:50, rangkaian yang ditunggu-tunggu kagak muncul-muncul juga. Akhirnya, dengan terpaksa, gue harus tinggalin Cikini dan langsung naik taksi ke Gambir, dengan harapan masih bisa ngejer KA 7136 yang dijadwalkan berangkat jam 12:10. Tapi kondisi jalan siang itu bener-bener nggak bersahabat, alhasil begitu gue nyampe di gerbang masuk Stasiun Gambir, puooongs, rangkaian KA 7136, perlahan tapi pasti, bergerak meninggalkan gue. Dengan terpaksa, gue harus beralih menggunakan travel Cipaganti yang berangkat dari pool di Cikini Raya jam 13:00, karena kalo harus nunggu GoPar berikutnya, gue nggak bakal sempet nyampe Bandung sebelum jam 4 sore...

Tiket travel Cipaganti Jakarta (Cikini)-Bandung (BTC), 05.03.2014

Itu cerita satu-satunya gue ketinggalan kereta, pengalaman pertama dan (semoga) terakhir kalinya ketinggalan kereta. Tapi, selain itu, gue juga sempet hampir dan nyaris ketinggalan kereta. Singkat aja deh ceritanya. Cerita pertama kejadiannya tanggal 26 September 2013, waktu itu PT KAI lagi berbaik hati nyebarin tiket promo 20-100 ribu rupiah, dan juga bertepatan dengan pameran IIMS 2013. Waktu itu, langsung gue ajak seorang temen kampus gue buat ke Jakarta. Buat ke Jakartanya, kami berhasil mendapatkan tiket promo, dan rencananya, pulangnya bakal naik travel Day Trans langsung dari JIExpo menuju Bandung. Oh ya, ini buktinya kalo gue berhasil dapet tiket promo...

Tiket promo KA 21 BD-GMR, 26.09.2013

Begitu sampe di Jakarta, sesuai perjanjian waktu gue masih di kereta, seorang temen railfan udah nungguin gue di Stasiun Jatinegara. Dari sana, rencananya kami akan langsung menuju Stasiun Sudirman, tapi memutar lewat Kampung Bandan dengan naik Commuter Line rute Jatinegara-Bogor. Tapi, begitu kereta berhenti di Stasiun Pasar Senen, gue malah minta temen-temen gue buat turun dulu, sekalian cari makan siang di sekitaran stasiun. Transit selama sekitar 30 menit, kami kembali naik KRL menuju Sudirman. Kalo dipikir, kurang kerjaan juga sih, di saat bisa naik Transjakarta langsung ke daerah Sudirman, gue malah ngajak naik KRL yang ngacir ke arah utara dulu. Tapi kan, kapan lagi ada kesempatan muterin Jakarta naik KRL, hehehe. Oh ya, sambil nungguin kereta, gue nggak lupa buat minta difotoin di samping papan nama Stasiun Senen...

Gue di Stasiun Pasar Senen, hehehe...

Begitu sampe di Sudirman, ternyata tinggal tersisa 10 menit waktu sebelum shuttle bus berangkat dari Senayan City. Karena pastinya nggak bakalan sempet ngejer ke sana, akhirnya kami memutuskan naik Transjakarta dan turun di Pasar Baru, halte terdekat dari JIExpo, yang mana halte itu letaknya nggak terlalu jauh dari Pasar Senen. Tuh kan, bener-bener nggak jelas banget, ngapain harus muter-muter naik KRL dari Senen ke Sudirman via Kampung Bandan-Duri-Tanah Abang dan ujung-ujungnya dari Sudirman balik ke Pasar Baru, di saat sebenernya bisa naik Transjakarta langsung dari Senen ke Pasar Baru (dengan transit, pastinya)...

Dari Pasar Baru, kami langsung naik taksi menuju JIExpo. Begitu sampe di lokasi pameran dan dateng ke tempat penjualan tiket travel, kami sempat kaget begitu tahu tiket travel langsung dari Kemayoran dibanderol (kalo nggak salah) Rp. 120 ribu, lebih mahal daripada kalo naik GoPar atau travel lainnya. Akhirnya, kami memutuskan buat naik KA 28 yang berangkat dari Gambir (waktu itu) jam 18:05. Dua jam sebelum keberangkatan KA 28, kami sudah naik shuttle bus keberangkatan jam 4 sore. Tapi, di perjalanan, kami sempat tertahan kemacetan Jakarta yang membuat kami deg-degan, dan sempat hampir menyesal, kenapa nggak naik travel yang tiketnya lebih mahal, tapi pasti kebagian kursi dan nggak bakal ditinggalin karena kehalang macet. Belum lagi, begitu nyambung dengan Transjakarta, busnya ketahan macet di Senen. Makin deg-degan aja. Begitu nyampe di Gambir dan lagi beli tiket KA 28, petugas loketnya sempet ragu kalo kami masih bisa naik KA 28, tapi gue waktu itu merasa yakin bisa ngejer keretanya, toh masih ada waktu 5 menit. Begitu duduk di kursi kereta, saat itu juga keretanya mulai bergerak menuju Bandung. Hampir saja ditinggal kereta...

Tiket reguler KA 28 GMR-BD, 26.09.2013

Cerita yang lainnya lebih parah dari kejadian tahun 2013, dan baru terjadi kurang dari 2 minggu yang lalu, tepatnya tanggal 10 November 2014. Hari itu, gue dan teman-teman sekelas gue mengikuti study tour mengunjungi Kementerian Luar Negeri RI. Dari sebelum berangkat ke Jakarta, gue udah rencanain buat berpisah dari rombongan setelah semua rangkaian acara selesai, dan pulang ke Bandung menggunakan KA 30. Semua rencana berjalan dengan lancar: seluruh kegiatan study tour selesai jam 17:15, dan semua peserta yang akan berpisah dari rombongan utama di Jakarta diminta melapor ke panitia. Setelah selesai melapor, gue langsung keluar dari dalam area Kemlu dan menunggu bus di halte yang berada di Jalan Abdul Rahman Saleh. Dari jam 17:20-17:45, hanya ada tiga bus yang datang. Bus pertama, langsung diisi sejumlah penumpang yang udah duluan stand-by di halte. Bus kedua, belum juga pintu terbuka penuh, petugasnya langsung menolak penumpang untuk naik karena busnya udah penuh sesak. Baru di bus ketiga, gue akhirnya bisa diangkut menuju Gambir, yang hanya berjarak satu pemberhentian.

Begitu tiba di Gambir, gue langsung berlari secepat mungkin menuju loket di sisi selatan stasiun. Namun, begitu tiba di loket, gue masih harus menunggu giliran. Dari tiga loket yang dibuka, antrian terpendek diisi oleh 4 orang. Beruntung, dua orang langsung meninggalkan loket begitu mereka tahu mereka harus pindah ke sisi utara stasiun untuk melakukan pemesanan tiket. Waktu masih menunggu orang di depan gue melakukan transaksi, PAP udah mulai ngumumin kalo KA 30 bakal diberangkatkan dalam waktu 5 menit. Menurut jam di tiket, tinggal tersisa waktu 1 menit buat gue melewati boarding counter dan berlari naik tangga menuju peron yang berada dua lantai di atas tempat gue saat itu. Tapi, bukannya diperbolehkan langsung masuk, gue masih juga ditahan oleh petugas boarding, tapi ya namanya kewajiban memeriksa tiket, terpaksa gue harus mengikuti peraturan yang ada. Sambil berlari naik, PAP udah keburu ngucapin “kalimat sakti” berikut:

“KPKA 30, semboyan 40 telah diberikan, silakan berikan semboyan 41.”

Waduh, dalam pikiran gue, itu berarti semua pintu kereta sudah ditutup rapat dan hanya menyisakan pintu kereta makan, di mana kondektur akan naik setelah memberikan semboyan 41. Gue langsung berpikir untuk menyelinap masuk ke dalam kereta lewat pintu tersebut. Namun, begitu sampe di peron, rangkaian kereta sudah mulai berjalan perlahan dan pintu kereta makan hanya terbuka sedikit. Gue beruntung banget masih terlihat oleh kondektur yang saat itu baru masuk lewat pintu Eksekutif 2. Beliau langsung menyuruh gue naik lewat satu-satunya pintu yang terbuka lebar itu. Kali ini, gue bener-bener merasa beruntung. Udah ngeluarin duit 110 ribu, keretanya udah mulai bergerak pula, tapi untungnya gue masih bisa naik. Kali ini, bukan lagi hampir ketinggalan kereta, tapi nyaris ketinggalan kereta...

Tiket KA 30 GMR-BD, 10.11.2014 (baru dibeli persis 1 menit sebelum kereta berangkat -_-)

Inilah sederet pengalaman “menegangkan” gue, mulai dari hampir ketinggalan kereta, nyaris ketinggalan kereta, sampe bener-bener ketinggalan kereta. Kesimpulannya, mending kalo tiket belum dibeli, dan udah mepet sama waktu keberangkatan kereta, nggak usah maksain ke stasiun lagi, apalagi beli tiket kereta 1 menit sebelum jadwal keberangkatannya. Kalopun udah dibeli tiketnya berhari-hari sebelum keberangkatan, jangan pernah ngulur-ngulur waktu buat dateng ke stasiun, daripada begitu nyampe gerbang stasiun cuma bisa ngeliat keretanya baru aja berangkat...

Your local time is: